Banyak orang tidak menyangka bahwa saya kemudian memutuskan untuk mengikuti proses pemilihan Rektor UI. Sebagai praktisi dan pengamat pendidikan dan kelautan selama 20 tahun terakhir ini, saya melihat perguruan tinggi Indonesia, terutama UI, telah lalai pada tugas luhurnya : menginspirasikan perubahan, paling tidak di dunia pendidikan, dan terutama Indonesia.sebagai negeri kepulauan.
Saya sudah merasa semakin tua, dan saya merasa membutuhkan ruang pengabdian yang lebih berarti daripada saat ini. Tugas sejarah saya yang penting di ITS rasanya sudah saya tunaikan dengan lumayan baik. Saya pikir, kini saatnya saya berbuat untuk sesuatu yang lebih penting. This is just the right time to make a difference.
Merenungkan reformasi 10 tahun terakhir ini, serta sejarah Indonesia kontemporer, saya mengambil kesimpulan 1) Perguruan tinggi telah gagal mengemban perannya sebagai semacam sistem peringatan dini sosial, ekonomi, dan politik, sehingga perubahan selalu terlalu sedikit dan terlambat untuk efektif dan membuahkan hasil. Perguruan tinggi semakin inward-looking, dan kehilangan relevansinya 2) Dunia pendidikan gagal membangun budaya waktu yang sehat yang dibutuhkan bagi sebuah Negara yang maju. Time indiscipline and insensitivity bangsa ini saya nilai sebagai sebab terpenting keterbelakangan Indonesia dengan dampak yang luas dan merusak. Manusia Indonesia tidak menghargai proses, perencanaan dan sejarah, serta sulit mengapresiasi masa depan. Bangsa ini dengan mudah mentolerir berbagai bentuk penundaan, dan keterlambatan. Time-mismatches terjadi di mana-mana. 3) Pendidikan kita secara sistematik menelantarkan takdir alamiah kita sebagai bangsa bahari, sehingga kemudian para pengambil kebijakan tidak memiliki wawasan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menterjemahkan kekayaan sumberdaya kelautan ini menjadi besaran-besaran budaya, ekonomi, dan politik yang bernilai tambah tinggi. 4) Perguruan tinggi Indonesia mengalami krisis paradigmatik sehingga memerlukan sebuah new business model yang menjamin keberlanjutan finansial sekaligus keunggulan (excellence).
Pembangunan yang hanya berperspektif teknologi dan perikanan saja terbukti tidak cukup. Kita membutuhkan basis saintifik budaya, social, ekonomi, dan politik untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya faktor endowment kelautan kita itu. Bahkan, geo-arsitektur Indonesia sebagai kepulauan tropis yang bercirikan Nusantara adalah unik di dunia sehingga mestinya menjadi ladang yang subur bagi pendidikan dan penelitian kelas dunia.
Oleh karena UI menyandang nama Indonesia, pemilihan rektor UI tidak bisa hanya merupakan isu internal UI. Ini adalah isu nasional. Apalagi UI memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk menginspirasikan perubahan pendidikan tinggi yang lebih berpijak pada takdir alamiah bangsa ini sebagai negeri kepulauan. Tidak cukup bila UI hanya sekedar menjadi a world-class enterprising research university yang tidak mengemban misi keindonesiaan. UI seharusnya menjadi cermin intelektualita Indonesia, dan memimpin perubahan pendidikan yang membangun Indonesia yang otentik. Great power brings about great responsibility.
That is how I make sense of this UI’s rector election : saya akan bayar hutang-hutang UI pada bangsa ini.
daniel-rosyid-ui-memimpin-perubahan.pdf
Silahkan klik link di atas untuk mendownload pemikiran saya atas Universitas Indonesia. (Format file .pdf, ukuran 470 kb.)
Ditulis dalam Pendidikan