Oleh: Daniel Rosyid | Juni 22, 2007

Islamisasi SAINS Revisited

Pendahuluan. Kemelut yang dihadapi bangsa Indonesia pasca reformasi, bahkan setelah kemerdekaan, tidak unik. Bangsa-bangsa lain di dunia juga mengalami kemelut, dengan dimensi dan keparahan yang berbeda-beda. Kerusakan ekosistem planet bumi sudah dilaporkan banyak pihak, dan terdokumentasikan dengan baik (Schoemacher, 1974). Kegagalan Protokol Kyoto, dan pemanasan global adalah fakta di awal abad 21 ini, dan Indonesia mencatatkan diri sebagai perusak hutan nomor satu di dunia sebagaimana dilaporkan oleh Greenpeace Indonesia pada awal Mei 2007 ini. Kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, kriminalitas dan pelanggaran hak azasi manusia, penyalahgunaan obat, dan kekerasan antar negara dan ketidakadilan masih menghiasi awal abad 21 ini (Laporan Bank Dunia, 2004). Ummat manusia saat ini sesungguhnya menghadapi permasalahan yang sama, yaitu krisis sains yang selama ini dijadikan tumpuan utama hampir seluruh kegiatan manusia.

Persoalan-persoalan yang menumpuk saat ini telah menggerogoti kepercayaan bangsa-bangsa terhadap fungsi dan peran lembaga-lembaga internasional, terutama PBB, IMF, dan World Bank, yang telah menjadi alat penjajahan baru negara-negara maju atas negara-negara sedang berkembang (negara ketiga) dan miskin (Perkins, 2005). Globalisasi ternyata merupakan modus baru kolonialisme (Friedman, 2004) yang hanya menguntungkan negara-negara kuat, dan merugikan negara-negara berkembang dan miskin. Mengenai persoalan kemiskinan global yang tidak kunjung terselesaikan ini, Omerod (2002) bahkan memproklamasikan kematian ilmu ekonomi. Penulis harus menambahkan kematian ilmu lingkungan atas kegagalannya mencegah kehancuran lingkungan yang semakin meluas saat ini. Indonesia yang sampai saat ini masih sebagai konsumen ilmu produk negara-negara maju, dengan sendirinya ikut mengalamikrisis, justru dengan keparahan yang lebih tinggi, dan tampak tidak belajar dari kekeliruan negara-negara “dunia pertama” ini.

Realitas bangsa Indonesia sekarang ini adalah jumlah agregat tindakan-tindakan individu-individu manusia Indonesia sebagai respons mereka terhadap persoalan yang mereka hadapi dalam mencapai aspirasi mereka. Tindakan-tindakan yang tangible ini merupakan hasil dari pilihan-pilihan teknis operasional dalam ruang dan waktu sekarang, didorong untuk memuaskan kepentingan-kepentingan emosional tertentu yang diturunkan dari pilihan-pilihan moral yang intangible. Dalam tiap tahapan ini berlangsung pemikiran-pemikiran atau proses-proses penalaran sebagai upaya menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan nalar. Sains sebagai produk nalar telah dipakai secara luas dalam rangka memahami, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa yang diwujudkan dalam berbagai dimensi pembangunan.

Upaya menggagas sains baru –atau islamisasi sains- dengan demikian dapat dipahami dalam kerangka revolusi sains menurut Thomas Kuhn, yaitu bahwa perkembangan sains dimulai dari krisis paradigma ilmu normal, diikuti oleh pengajuan paradigma baru dan periode pengembangan sains normal berbasis paradigma baru ini, kemudian diikuti oleh krisis lagi dan seterusnya. Kerangka krisis paradigma sebagai perangkat revolusi atau pembaruan ilmu ini juga harus diberlakukan atas ilmu-ilmu agama yang diklaim telah diturunkan dari Al Qur’an dan Hadits. Penulis harus mengatakan bahwa perubahan paradigmatik yang paling mengundang kontroversi adalah perubahan-perubahan pada khasanah ilmu-ilmu agama karena ini berkaitan dengan dasar-dasar keyakinan manusia. Kata “Tauhid” sebagai cabang ilmu agama, misalnya, adalah sebuah kata asing dalam Al Qur’an, namun diyakini oleh mayoritas muslim dunia sebagai semacam pondasi Islam. Padahal, kata “iman” jauh lebih mendasar dan memiliki rujukan yang jauh lebih banyak dalam Al Qur’an. Akan tetapi, realitas wacana keislaman menunjukkan seolah “tauhid” lebih penting daripada “iman”, seperti tercermin dalam istilah “tauhid sosial”, misalnya. Makalah pendek ini akan mencoba menggagas aspek-aspek epistemologi sains baru ini.
Upaya melakukan kritik terhadap ilmu-ilmu agama ini bukanlah hal yang baru, bahkan telah dilakukan oleh pujangga besar Sir Muhammad Iqbal dalam disertasinya di awal abad 20 dalam “The Reconstruction of Islamic Thoughts”.

Upaya-upaya membangun kembali sains telah dicoba dimulai melalui upaya-upaya “islamisasi sains” oleh Sir Naquib Allatas pada awal 1970-an, dan diwujudkan dalam sebuah institusi pendidikan, yaitu Universitas Islam Internasional di Kuala Lumpur pada awal tahun 1980-an yang disponsori oleh Organisasi Konferensi Islam. Kelahiran beberapa UIN dari eks IAIN di Indonesia sedikit banyak mencerminkan upaya islamisasi sains ini. Sekalipun “islamisasi sains” mungkin kontroversial, penulis memahaminya sebagai upaya membangun sains baru ini. Hidayat Nataatmaja merupakan salah satu orang Indonesia yang secara cukup intens melakukan upaya-upaya semacam ini pada tahun 1980-an.

Rekonstruksi Sains. Metodologi sains baru yang akan digunakan dalam rekonstruksi sains baru akan dicoba dirumuskan dengan meninjau beberapa komponen-komponen penyusun “sistem sains”. Sistem sains ini dapat dikatakan dikembangkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu. Pertanyaan nalar pertama adalah tentang pengalaman manusia bersentuhan, melihat, dan mendengar benda-benda dan gejala-gejala tangible tercandra di luar dirinya.

  • Apa nama benda-benda dan gejala-gejala tangible yang tercandra yang ada di sekitar saya ? (definition problem)
  • Bagaimanakah hubungan-hubungan yang paling mungkin (most probable relationship) antara benda-benda atau gejala-gejala tercandra ini ? (scientific problem)
  • Bagaimanakah saya bisa memanfaatkan hubungan-hubungan ini untuk kepentingan saya ? (technological problem)
  • Hubungan antara pengamat dan amatan cukup jelas. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pertama ini menghasilkan pengetahuan, ilmu, dan teknologi. Namun penting untuk segera dicatat, bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang nama-nama benda, dan apalagi tentang dirinya sendiri sebagai manusia (pertanyaan eksistensial) tidak sepenuhnya bisa dijawab oleh diri manusia sendiri, semata-mata karena bahasa bukanlah gejala kesepakatan antar manusia, serta eksistensi manusia bukan hasil rekayasa dan keputusannya sendiri.

      Komponen sains kedua menyangkut manusia –tentu pertama tentang dirinya sendiri-, yaitu tentang perasaan (emosi) (intangible, tapi tercandra), sebuah refleksi seseorang atas pengalaman emosionalnya. Domain sains ini memiliki hirarki yang lebih tinggi daripada domain sains sebelumnya.

    Berbeda dengan pengetahuan, perasaan menimbulkan kehendak (karsa, kemauan) yang menggerakkan manusia, sedangkan pengetahuan tidak. Jawaban atas pertanyaan nalar kedua ini menghasilkan, mungkin salah satu yang terpenting, ilmu manajemen –disamping psikologi-, yaitu sebuah cara menggerakkan sekelompok manusia untuk melakukan aktifitas-aktiftas terencana demi mencapai tujuan-tujuan tertentu.

    Berbeda dengan pertanyaan nalar pertama, pertanyaan nalar kedua ini sudah memasuki persoalan “choice” atau “decision”. Inilah yang menyebabkan realitas manusia itu tidak tunggal, melainkan buah pilihan emosionalnya. Subyektifitas atau kesadaran manusia dimulai di tahap pilihan-pilihan emosional ini. Manusia dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan memilih emosi-emosi positif yang menguntungkan dirinya.

    Pertanyaan nalar ketiga -mencakup domain dengan hirarki yang lebih tinggi lagi-, masih mengenai diri manusia sendiri, adalah tentang moral, sebuah refleksi seseorang atas pengalaman moralnya. Jawaban atas pertanyaan ketiga ini menghasilkan kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan membawa manajemen ke arah tertentu. Kepemimpinan menyediakan “ruh” atau jiwa dalam manajemen, memandu pilihan-pilihan moral. Memimpin berarti menentukan pilihan moral. Aqil balligh adalah kematangan akal –yang dalam hal ini harus diartikan sebagai kematangan moral- yaitu kapasitas untuk bertanggungjawab atas konsekuensi-konsekuensi setiap pilihan moral. Bagi mereka yang jahil secara moral, pilihan-pilihan moral ini tidak disadari, dan oleh karena itu meraka tidak pernah aqil balligh. Sejarah (manusia) menunjukkan, kebanyakan manusia terbukti malas (mengalami keruntuhan nalar, membiarkan dirinya tidak mengetahui pilihan-pilihan moral yang tersedia) untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan nalar.

    Untuk menjawab pertanyaan moral, manusia harus terlebih dahulu menjawab pertanyaan-pertanyaan nalar tentang moral. Dengan demikian dapat dikatakan, dalam kebanyakan kasus keruntuhan moral didahului oleh keruntuhan nalar. Keruntuhan nalar tidak akan menyediakan pilihan-pilihan moral. Pilihan-pilihan moral ini dapat dikenali melalui sejarah yaitu kisah tentang (pilihan moral) manusia (his-story). Kitab-kitab suci pada dasarnya merupakan kisah tentang pilihan-pilihan moral manusia. Manusia dipersilahkan memilih sendiri pilihan-pilihan moral ini, tanpa paksaan sedikitpun. Bahkan ritual mekanik keagamaan sekalipun bukanlah fakta yang selalu menunjukkan moralitas.

    Oleh karena ini, kenyataan/realitas ummat manusia yang disebut sebagai realitas sosial seperti yang dapat dilihat dalam sejarah –seperti kemelut Indonesia atau bahkan kemelut dunia- bukanlah realitas tunggal, namun merupakan realitas ganda sebagai hasil pilihan-pilihan moral yang berbeda-beda dalam ruang dan waktu oleh pelaku-pelaku yang berbeda. Sejarah dengan demikian adalah panggung pergiliran pilihan moral manusia.

    Spiritualitas dan Bahasa. Pertanyaan nalar keempat adalah tentang spiritualitas, yaitu siapakah manusia (dirinya sendiri) ini ? Jawaban atas pertanyaan ini memberi pijakan bagi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan moral. Nalar tidak mampu menjawab pertanyaan ini. Manusia tidak memiliki kapasitas untuk menjawab persoalan definisi diri (self-definition atau identity problem) ini. Pencarian tentang siapa dirinya ini telah dicoba dilakukan melalui eksperimentasi sejarah (manusia) yang panjang dengan bahan baku eksperimennya adalah manusia beberapa generasi.

    Pertanyaan spiritualitas ini mengantar kita pada pertanyaan di sekitar rumusan pertanyaan itu sendiri. Kata-kata dan susunannya dalam sebuah kalimat itu pertama-pertama harus dianggap sebagai sebuah sistem aksiomatika (kerangka asumsi) dasar yang diyakini kebenarannya oleh penanya, namun biasanya tidak disebutkan secara eksplisit. Bahasa dengan demikian memberi jawaban bagi boundary value problem ini. Jika pertanyaan-pertanyaan nalar ini tersusun oleh kata dan kalimat, apakah manusia memiliki otoritas atas bahasa yang dipakainya untuk mengajukan pertanyaan atau melakukan proses penalaran ? apakah bahasa merupakan gejala kesepakatan manusia ? apakah bahasa merupakan gejala penaklukan ?

    Sejarah manusia menunjukkan bahwa bahasa merupakan gejala penaklukan. Bangsa yang lebih unggul akan memaksakan (secara kekerasan atau tidak) bahasa mereka pada bangsa yang ditaklukkan. Adaptasi atau penyerapan bahasa asing ke dalam sebuah bahasa lainnya menunjukkan bahwa bangsa kedua ditaklukkan oleh bangsa pertama. Proses pembelajaran bahasa dalam interaksi ibu-anak jelas-jelas menunjukkan bahwa bahasa merupakan gejala penaklukkan, penaklukan oleh sebuah eksistensi yang lebih tinggi kepada eksistensi yang lebih rendah.

    Jika bahasa merupakan alat berpikir manusia, maka bahasa akan menunjukkan tingkat kemajuan pemikiran bangsa pemakai bahasa tersebut. Di samping ada gejala rumpun bahasa (misalnya saja antara alif dan alfa, manakah yang lebih dulu diciptakan ? bangsa arab mengadopsi bangsa Yunani, atau sebaliknya ?), bahasa jelas bukan merupakan gejala kesepakatan.

    Jelas bahwa Adam bukanlah manusia biologis yang pertama. Jika Adam adalah makhluq sosial yang pertama –yang pertama melakukan proses penalaran indrawi, emosi, dan moral-, maka bahasa apakah yang dia pakai ? apakah Adam menciptakan bahasanya sendiri ? Jika manusia sekarang memperoleh pengalaman pertama berbahasanya melalui interaksi dengan ibunya, maka siapakah ibu Adam ? Ibu Adam ini dalam khasanah “agamaisme” disebut Tuhan. Padahal “Tuhan” inilah yang menyediakan pilihan-pilihan emosional dan moral dalam peta kognitif Adam melalui pengilhaman bahasa kepada Adam.

    Namun bahasa sebagai alat pengikat makna tidak saja mengalami perubahan morfologi dan struktur sebagaimana kita lihat dalam perkembangan bahasa-bahasa, tapi juga mengalami penggusuran makna. Ini adalah sebuah subversi eksistensial paling halus yang mungkin dikenal manusia. Secara sistematik, bahasa dilepaskan dari ikatan realitas yang disimbolkannya. Subversi paling serius terjadi pada saat kata “Tuhan” tidak lagi mewakili “Tuhan” yang disimbolkan oleh kata “Tuhan”. Pendek kata, subversi ini terjadi saat “Tuhan” tidak lagi mewakili realitasnya sebagai “Ibu sosial Adam”.

    Melalui subversi terhadap “Tuhan” ini, pilihan-pilihan emosional dan moral dalam peta kognitif manusia menjadi termiskinkan, atau bahkan dihilangkan sama sekali. Bersamaan dengan itu, pilihan-pilihan peran manajemen dan kepemimpinan manusia menjadi kabur. Peran manajemen, jika ada, sekarang ini tidak dipandu oleh peran kepemimpinan. Kemelut dimulai sejak manusia kehilangan panduan moral para pemimpinnya.

    Pertanyaan yang diajukan di muka dengan demikian mulai menemukan jawabannya. Kemelut ini dimulai oleh keruntuhan nalar pada saat manusia terhambat –atau dihambat secara sengaja dan sistematik melalui pendidikan di sekolah-sekolah dan media massa- untuk mengetahui pilihan-pilihan moral dan pilihan-pilihan emosionalnya. Melalui sebuah proses pembodohan massal yang amat canggih, eksistensi manusia diturunkan ke tingkat binatang yang tidak mengenal pilihan-pilihan emosional dan moral. Kenyataan sosial yang amoral dan majal-rasa yang banyak kita lihat akhir-akhir ini merupakan wujud keruntuhan moral dan emosional kita.

    Pekerjaan yang perlu segera diselesaikan ummat manusia saat ini dengan demikian adalah membangun peta kognisinya kembali dengan memasukkan pilihan-pilihan emosional dan moral dalam peta tersebut. Peta ini akan membentuk bangun kesadaran manusia. Pada saat itulah, manusia kembali menjadi makhluq yang merdeka, yang harus mempertanggungjawabkan pilihan-pilihan emosional dan moralnya. Sedangkan pilihan-pilihan saintifik, teknologis akan dengan sendirinya dipandu oleh pilihan-pilihan emosional dan moral yang lebih kaya yang membuka kemungkinan-kemungkinan lebih banyak untuk keluar dari kemelut ini.

    Pilihan emosional dan moral mana yang dipilih akan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang selalu menggoda manusia sepanjang hidupnya, dan kerenanya masa depan kehidupannya akan amat menarik, tidak membosankan, dan mendebarkan, and worth living. Dengan memperhatikan pertanyaan-pertanyaan nalar tersebut di muka, maka jelas bahwa sains sosial berbeda dengan sains alam, terutama realitas sosial bukanlah realitas tunggal, namun merupakan hasil sebuah pilihan moral dan emosional. Kecenderungan yang kuat untuk menggunakan metodologi sains alam untuk membangun sains sosial merupakan kesalahan mendasar.

    Upaya membangun kembali peta kognitif manusia merdeka ini dapat dimulai dengan membangun sebuah kerangka model kognitif manusia yang tercermin dalam metodologi sains baru ini. Dalam bahasan selanjutnya, akan ditinjau bagaimana sains modern dipijakkan pada falsafah yang berbeda dengan ilmu-ilmu agama, dan keduanya dikembangkan dengan metodologi ataupun model kognitif yang berbeda pula.

    Sains –bisa didefinisikan sebagai a systematic knowledge supported by facts sebagai yang kita kenal sekarang dibangun di atas sebuah pandangan hidup yang disebut realism, yaitu sebuah filsafat yang percaya bahwa materi memiliki eksistensi nyata, terpisah dari persepsi mental manusia atas materi tsb. Sains juga dipijakkan di atas filsafat naturalism, yaitu a system of thought which rejects the supernatural and divine revelation, and holds that natural causes and laws explain all phenomena. (Hornby, 1981) Berbicara tentang Tuhan Sang Pencipta dalam Fisika, misalnya, amat tidak lazim, dan bertentangan dengan filsafat yang mendasari sains. Sains modern dikembangkan dengan metode ilmiah, yaitu sebuah proses mengajukan hipotesis melalui sebuah proses deduktif menggunakan logika, lalu mengumpulkan data dan fakta melalui survai atau percobaan terkendali di laboratorium, kemudian menguji dukungan fakta atas hipotesis secara induktif dengan statistik, dan menarik kesimpulan. Jika data mendukung hipotesis, maka hipotesis ini menjadi sebuah teori.

    Sementara itu, berbeda dengan sains modern, ilmu-ilmu agama yang kita kenal sekarang dikembangkan berpijak pada falsafah idealism, yaitu a system of thought in which ideas are believed to be the only real things, or the only things of which we can know anything. Di pesantren dikenal definisi ilmual ‘ilm nurun fil qalbi” (ilmu adalah cahaya dalam hati). Jika data dan fakta itu amat penting dalam sains, maka ilmu-ilmu agama tidak memandang penting fakta atau data. Bahkan, data dan fakta tidak diperlukan untuk mendukung klaim-klaim agama ini.

    Perbedaan kedua sistem berpikir dan bangun kesadaran ini menjelaskan mengapa Barat amat memahami alam, sehingga menguasai sains dan teknologi, namun seolah tidak mengenal Tuhan, sedangkan Timur tahu banyak tentang Tuhan, namun amat tidak memahami alam ini. Bahwa kedua jenis ilmu ini telah berkembang pesat selama, katakan 200 tahun terakhir, menjadi alat manusia modern memahami, mengendalikan, dan meramalkan peristiwa-peristiwa alam dan sosial, namun dunia ini justru seperti menumpuk permasalahan yang mengancam eksistensi spesies kita sendiri, membuktikan kembali adanya krisis ilmu (sains dan agama).

    Beberapa kelompok ilmuwan mencoba “mengawinkan” kedua metodologi ini karena, seperti disinyalir oleh Einstein, “ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Transformasi IAIN menjadi UIN sedikit banyak mencerminkan upaya-upaya perkawinan ini. Apakah dengan mengawinkan kedua jenis ilmu ini (sains + agama) akan menyelesaikan krisis manusia modern ini ? Penulis cenderung mengatakan, bahwa perkawinan ini telah gagal.

    Paradigma Sains Alternatif. Dalam tulisan ini diajukan sebuah paradigma sains alternatif. Untuk tujuan ini harus dikatakan, bahwa kata “iman” dan beragam bentuk turunannya amat banyak dibicarakan dalam al Qur’an, sehingga sesungguhnya lebih layak dipakai sebagai basis sains daripada kata “tauhid” yang sama sekali tidak dipakai dalam Al Qur’an. Bahkan jibril seolah membagi Al Qur’an ke dalam sebuah sistematika tertentu, yaitu iman, islam, ihsan, dan sa-ah.

    Al Qur’an harus dipandang sebagai kerangka sistem aksiomatika ilmu -terutama ilmu sosial- karena tidak ada keraguan di dalamnya (la rayba fii hi), bahkan memberi penjelasan atas segala sesuatu (tibyaanan li kulli syai’in). Al Quran tersusun oleh kerangka teoretik ilmu-ilmu sosial (ayat-ayat muhkamaat), sedangkan lainnya merupakan penjelasan kerangka teori ilmu-ilmu sosial tersebut yang disajikan melalui perumpamaan-perumpamaan astronomi, biologi, fisika, dsb. (ayat-ayat mutasyaabihaat). Jadi, perbedaan antara muhkamat dan mutasyabihat adalah perbedaan antara isi/kandungan dengan bungkus/kandang, bukan anatara ayat yang jelas dan yang tidak jelas. Sebab jika hal ini menyangkut ayat-ayat yang jelas dan tidak jelas, kedudukan Al Quran sebagai petunjuk dan pedoman hidup tidak bisa lagi dipertahankan.

    Al Qur’an sendiri mengajukan definisi sains, sebagaimana dinyatakan dalam Surat Ar Rachman. Lima ayat pertama surat Ar Rachman memberi definisi sains alternatif, yaitu saat mendefinisikan al bayyan sebagai rangkaian informasi dari Allah swt. tentang astronomi, biologi, dan kehidupan sosial. Model kognitif atau metodologi sains alternatif bisa dirumuskan dengan memperhatikan surat Yunus : 5 yang menggambarkan metodologi sains ini melalui perumpaman astronomi. Jika realisme dan naturalisme dapat diibaratkan sebagai sebuah metode gerhana bulan (moon eclipse) , dan idealisme sebagai gerhana matahari (sun eclipse), maka metodologi alternatif ini adalah metode non-gerhana. Jika bulan melambangkan manusia, bumi melambangkan alam, dan matahari melambangkan Sang Pencipta, maka gerhana bulan menggambarkan penyembahan manusia atas alam semesta, sedangkan gerhana matahari menggambarkan penuhanan manusia atas dirinya sendiri.

    Penuhanan diri sendiri yang sering dilakukan oleh para pemimpin agama gadungan digambarkan Qur’an melalui upaya-upaya kadzdzaba, yaitu “yaktubuuna al kitaaba bi aydii-him, tsumma yaquluuna haadza min ‘indillah, liyastaruu bihi tsmanan qaliilan”. Sementara penuhanan pada alam dilakukan oleh para saintis melalui proses-proses “pencurian” ilmu (tawallay), dengan mengatakan “penemuanku” daripada mengatakan “sunnatullah”.

    Kesimpulan.Dalam rangka keluar dari krisis manusia modern sebagai krisis ilmu ini, ummat Islam perlu bekerja keras untuk membangun kerangka paradigmatik sains alternatif, dengan ciri pokok sebagai berikut :

    1. Menjadikan Al Qur’an sebagai sebuah sistem aksiomatika sains sosial (sunnaturasul).
    2. Sains alam (ayat-ayat mutasyabihaat) menyediakan data-data penjelasan bagi sains sosial (ayat-ayat muhkamaat) –sosiologi, ekonomi, politik, sejarah. Sains sosial berada dalam hirarki ilmu yang lebih tinggi daripada sains alam.
    3. Ilmu dikembangkan dengan model kognitif atau metodologi non-gerhana, sebut saja metode “ibda’ bismillah wa akhir ha bil hamdulillah) di mana Allah swt sebagai wakil, manusia sebagai mutawakkil, dan alam sebagai ladang pengabdian manusia pada Allah swt yang senantiasa dilakukan “dengan asma Allah (bi-ismi-Allah), dan diakhiri dengan “sikap menyanjung kehidupan menurut ilmu Allah (al-hamdu lillah)”.
    Iklan

    Responses

    1. bagaimana hubungan profesi guru dengan konsep ajaran Islam dalam hal ini Konsep Rahmat? thanks b4!

    2. trimakasih, anda telah mensodaqohkan fikiran anda pada kami, semoga anda diberi Alloh kesehatan

    3. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

      Strategi (R)Evolusi Ilmu Sosial Milenium III
      (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
      Oleh: Qinimain Zain

      FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

      KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

      Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

      Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

      PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

      Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

      Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

      KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

      Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

      Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

      Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

      Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

      MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

      Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

      Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

      KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

      BAGAIMANA strategi Anda?

      *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

    4. Assww.Syukur sdr pun banyak baca buku-2 Hidayat Natatmaja.Saya tmsuk pengagum dia,saya tau kelebihan dia, tapi saya jg tahu “kekurangan” bliau. Jk sependapat, sekrg cb sdr mulai bc buku-2 tulisan orang-2 Islam Iran, nanti akan menjadi semakin terang bgmn kita seharusnya.
      Ok slamat juang.


    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Kategori

    %d blogger menyukai ini: