Oleh: Daniel Rosyid | Juli 20, 2007

SEKOLAHRUMAH : Strategi Deschooling dalam Peningkatan Kinerja Sistem Pendidikan Nasional

Menanggapi tulisan menarik dari Dewa Gde Satrya berjudul ”Homeschooling untuk Anak Wong Cilik ?” di rubrik ini (Kompas Jatim 20 Juli 2007), saya akan melihat isu sekolah rumah ini dari sudut peningkatan kinerja Sistem Pendidikan Nasional. Arsitektur Sistem Pendidikan Nasional sebagaimana diamanahkan oleh UU Sisdiknas yang berlaku saat ini sebenarnya sudah cukup baik dan memiliki robustness (kemampuan sistem tersebut untuk beradaptasi dalam menghadapi perubahan-perubahan lingkungan) yang cukup. Rancangan Sisdiknas diarahkan untuk membangun good education governance melalui instrumen-instrumen otonomi dan akreditasi sekolah, dan sertifikasi guru. Pemerintah menentukan norma-norma kebijakan dan standar nasional, dan otonomi diberikan hingga ke tingkat satuan pendidikan. Ini semua dimaksudkan untuk mendorong penyediaan layanan pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Sayang sekali, program pendidikan nasional yang berlangsung saat ini terbukti justru menggerogoti kinerja sistem pendidikan nasional dan terlalu berorientasi pada sisi penyediaan layanan pendidikan, kurang memperhatikan sisi kebutuhannya. Banyak Peraturan Pemerintah dan Peraturan ataupun Keputusan Menteri Pendidikan Nasional yang tidak memperkuat Sistem Pendidikan Nasional. Potret pendidikan nasional masih ditandai dengan formalisme yang luar biasa, bahkan mengarah pada too-much schooling. Otonomi sekolah dan guru dirusak oleh Ujian Nasional yang ikut menentukan kelulusan peserta didik. Sekolah dan guru tidak lagi aktor pendidikan yang dapat dipercaya, bahkan oleh Pemerintah sendiri. Kewajiban pemerintah untuk memastikan layanan pendidikan yang bermutu melalui akreditasi sekolah praktis tidak berjalan secara baik, dan sertifikasi guru amat terlambat dilakukan. Pemerintah justru menyibukkan diri menagih kinerja belajar peserta didik melalui Ujian Nasional, namun lalai menagih kinerja sekolah melalui akreditasi, dan kinerja guru melalui sertifikasi guru. Kesenjangan sarana dan prasarana sekolah, bahkan antar satuan pendidikan negri, masih amat lebar. Akibatnya, setiap Penerimaan Siswa baru (PSB) berbagai macam pungutan harus dihadapi oleh wali murid. Favouritisme sekolah menjadi gejala yang umum. Timbul kesan yang kuat bahwa sekolah dan guru adalah institusi yang suka ”meminta” (sebuah teladan yang amat buruk bagi murid), bukan institusi yang ”memberi”. Baik SD maupun SMP negeri melakukan berbagai macam seleksi masuk, termasuk seleksi yang didasarkan pada kemampuan keuangan calon peserta didik. Program Wajib belajar 9 tahun di lapangan sama sekali tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh. Pendek kata, banyak sekolah-sekolah kita (terutama negeri), yang tidak lagi ”ramah anak”, baik secara intelektual, sosial, maupun finansial. Penyeragaman yang luar biasa akibat didorong oleh Ujian Nasional yang menentukan kelulusan siswa telah mengakibatkan penyeragaman sajian layanan pendidikan : skolastik-akademik. Minat, bakat, dan kemampuan anak yang beragam, dan unik dengan kecerdasan mejemuknya diabaikan secara sistematik. Banyak guru yang tidak memahami tanggungjawab dan etika profesi guru, tidak mampu mengembangkan proses pembelajaran yang inovatif dan luwes sehingga gagal membangun pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) boleh dikatakan mandeg di tangan guru-guru yang tidak kompeten ini. Dapat dikatakan bahwa budaya (kultur) birokrasi pendidikan nasional tidak berubah, walaupun struktur-nya sudah dirancang baru. Pemerintah masih sangat berorientasi pada sisi penyediaan layanan pendidikan (supply side). Inipun masih amat jauh dari harapan. Sisi kebutuhan (demand side) pendidikan belum ditangani secara memadai. Kebutuhan Layanan Pendidikan Layanan pendidikan yang diharapkan oleh masyarakat sebagai konsumen jasa pendidikan pada saat ini adalah layanan pendidikan dengan delapan ciri sebagai berikut :

  1. membangun proses belajar yang berpusat pada anak
  2. inovatif dan luwes
  3. dipijakkan pada bakat dan minat anak yang beragam, dan unik, serta multi-cerdas
  4. mendorong kebiasaan belajar yang sehat
  5. membangun kreatifitas, dan tanggungjawab
  6. membangun toleransi
  7. terjangkau secara finansial
  8. relevan dengan kebutuhan peserta didik

Sistem persekolahan yang terbangun saat ini belum mampu menunjukkan ciri-ciri tersebut secara nyata. Bahkan ada kecenderungan negatif atas ciri-ciri tersebut. Sekolah masih terjebak dalam formalisme yang luar biasa, dengan jadwal belajar yang sangat kaku, dan amat berorientasi pada kurikulum dan guru, bukan pada anak. Padahal, seharusnya kurikulum dan guru diorientasikan bagi kepentingan terbesar peserta didik sebagai konsumen dengan kebutuhan yang unik sekaligus beragam. Dengan layanan pendidikan formal seperti ini, saya berani mengatakan bahwa anak jalanan ”beruntung” (blessed in disguise) karena tidak mengalami berbagai macam ”kekerasan” di sekolah, dan pembunuhan kreatifitas. Sistem persekolahan yang kaku ini telah mengakibatkan tingkat putus-sekolah yang tinggi, tidak hanya di kawasan perkotaan, namun terutama justru di daearah pedesaan. Bahkan ada kecenderungan, sekolah justru mengasingkan anak-anak ini dari lingkungan mereka sehari-hari. Karena banyak guru yang tidak berkompeten, KTSP sebagai strategi untuk membangun kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan anak boleh dikatakan gagal dilaksanakan di lapangan. Sekolahrumah : strategi deschooling Gejala too-much shooling yang menjadi ciri sistem persekolahan kita saat ini merupakan gejala yang tidak sehat, dan oleh karenanya harus dikurangi. Untuk itu, dapat diterapkan sebuah strategi deschooling, untuk meminjam istilah yang dipakai Ivan Illich dalam spiritnya yang terkenal ”Deschooling Society”. Diharapkan dengan strategi ini, sistem pendidikan nasional kita menjadi lebih lentur, dan memperoleh umpan-balik yang positif untuk meningkatkan kinerja sistem persekolahan formal kita. Sementara mengharapkan perubahan kinerja sistem persekolahan kita saat ini yang tidak ramah anak, Sistem Pendidikan Nasional memberi jalan keluar yang menarik, sekalipun tidak mudah, yaitu sekolahrumah (home schooling). Secara konsep, sekolahrumah pada dasarnya berlangsung sejak anak dilahirkan, dan dilakukan secara informal oleh keluarga. Bahkan, sistem persekolahan sebenarnya merupakan gejala yang relatif baru di Indonesia, terutama sejak Politik Etis Belanda pada akhir abad 19 menjelang abad 20. Banyak tokoh kemerdekaan Indonesia tidak memperoleh pendidikan formal melalui sistem persekolahan sebagaimana yang kita kenal saat ini. Sekolahrumah dapat juga dipahami sebagai implementasi KTSP, dengan satuan pendidikannya bukan sebuah lembaga sekolah formal, namun dapat berupa keluarga, ataupun sekelompok keluarga dalam sebuah kawasan (sekolah rumah komunitas). Layanan sekolahrumah komunitas dapat dikembangkan untuk melayani kebutuhan wong cilik dengan kemampuan ekonomi terbatas. Bahkan, sekolahrumah komunitas dapat dilakukan sebagai strategi mengurangi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagimana dikhawatirkan oleh Dewa Gde Satrya melalui sajian pendidikan anti-KDRT. Sekolahrumah dapat diarahkan untuk memiliki ke-delapan ciri layanan pendidikan yang diharapkan sebagaimana disinggung sebelumnya. Dalam layanan sekolahrumah ini, anak bersama orangtua atau kerabat dekatnya dapat menentukan kurikulum dan jadwalnya secara luwes dengan tetap mengacu pada standar nasional yang cocok dengan kebutuhan peserta didik. Boleh jadi akan dibutuhkan guru yang didatangkan ke rumah pada waktu dan frekuensi yang telah disepakati. Kebutuhan anak untuk melakukan sosialisasi (berteman dan bermain dengan orang lain) dapat dipenuhi dengan berbagai macam cara, baik secara individual maupun secara kolektif (misalkan mengorganisasikan kunjungan ke musem, kebun binatang, atau kebun raya). Pengelolaan sekolah rumah diharapkan akan dapat mendorong penguatan masyarakat yang belajar (learning society) yang telah lama terjebak dalam persepsi bahwa satu-satunya tempat belajar adalah sekolah. Pengelola jaringan sekolah rumah dapat mendorong agar lebih banyak simpul-simpul belajar non-sekolah yang dapat diakses oleh peserta sekolahrumah, serta mengupayakan ujian kesetaraan, jika dibutuhkan oleh peserta. Penutup Kecenderungan-kecenderungan penurunan kinerja Sistem Pendidikan Nasional saat ini dapat dikurangi dengan mengembangkan layanan pendidikan alternatif di luar layanan persekolahan saat ini yang cenderung tidak ramah anak, kaku, massal dan tidak relevan. Kelemahan ini dapat dikurangi dengan menerapkan strategi deschooling, antara lain dengan layanan sekolahrumah. Sekolahrumah tidak dimaksudkan untuk mengganti layanan pendidikan berbasis sekolah, namun dimaksudkan sebagai complementary and supplementary education services, sekaligus untuk menjadi umpan-balik bagi sistem pendidikan nasional kita. Peran orangtua dalam layanan sekolahrumah akan lebih menentukan, sehingga memerlukan layanan parent education untuk mendukung pelaksanaan sekolahrumah ini.

Iklan

Responses

  1. Yups setuju…. pak

    pendidikan rumah seringkali diabaikan oleh para orangtua dewasa ini, mereka bahkan sering menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya kepada lembaga pendidikan, padahal kita ketahui bersama bahwa tidak semua hal dapat diperoleh sang anak melalui pendidikan formal,

    oleh karena itu peran orangtua juga dituntut dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak2nya……….

  2. Sebelumnya saya menyampaikan terima kasih kepada Bapak atas bantuan dan sarannya karena 2 (dua) anak kami ( abraham reuben dan axl christopher ) mulai tahun ajaran ini mulai mengikuti homeschooling.
    Pendidikan di indonesia harus diakui masih banyak kelemahan dan kekurangan yang harus dibenahi. Masalah ini merupakan tanggungjawab kita semua. Respon pemerintah, dgn. diakuinya homeschooling, diharapkan dapat mengurangi kelemahan dalam sistem pendidikan yang ada.
    Dan semoga ini juga dapat direspon dgn baik oleh para orang tua dan pendidik lainnya.
    trims

  3. Salam kenal Pak Daniel,
    Saya setuju dengan paparan Bapak.
    Jika dunia pendidikan di negeri kita hanya mengandalkan sekolah formal (yang kini kian tak ramah untuk pembelajaran anak-anak), bagaimana nasib generasi penerus kita di masa mendatang…

    Keep writing, Pak Daniel!

  4. Terimakasih atas masukan dan encouragement Pak Usman, pak Fernandua, dan Ibu Maya.
    Melihat site Ibu Maya tentang Pendidikan Rumah, bagus sekali.
    Salam hormat.
    Daniel Rosyid

  5. Salam Pak Daniel. Saya sepakat jika homeschooling dimaksudkan sebagai complementary and supplementary. Ini artinya kita harus menyiapkan lebih banyak ‘orang tua’, atau ‘keluarga’ untuk memiliki kesadaran belajar yang bagus. Tapi ada juga kekhawatiran homeschooling ini akan men-degradasi sense of social anak, mengingat adanya kecenderungan homeschooling ini lebih banyak diterapkan oleh keluarga kaya untuk mempertahankan ke-eksklusifan mereka.

    terima kasih

  6. assalamu’alaikum pak Daniel, semoga bapak dan keluarga sehat dan baik.
    senang sekali dan sangat informatif ulasan yang bapak paparkan melalui media ini mengenai home schooling sebagai pendidikan alternatif di tengah-tengah persaingan dunia pendidikan saat ini. semoga pemerintahan menyadari fenomena yang ada sehingga tidak menganggap hal tersebut menjadi suatu ancaman bagi dunia pendidikan. dan semoga para pakar pendidikan dan para orang tua memahami dengan bijak dan benar bahwa home schooling bukanlah media pendidikan yang dipandang sebelah mata dan tidak diperhitungkan sebagaimana sekolah foemal yang ada. maju terus pendidikan Indonesia.

  7. Assalamu alaikum bang,

    longtime no see, terakhir semasa kibar di UK dulu yach

    Kita punya keprihatinan yang sama nih,
    sehingga kami di depok membuat Madrasah Intl TechnoNatura, dengan semangat mini school komunity, konsep homescholling yang kami terapkan secara komunitas, alhamdulillah sudah 76 anak bergabung saat ini lho.

    Insha Allah kapan kapan ketemuan tuk sharing pengalaman nih brother..

    wassalam

    A Riza Wahono
    CREATE Foundation
    Proudly Presents
    http://www.technonatura.org
    www. edutekh.com

  8. assalamualaikum pak,,.
    saya salah satu peserta seminar pendidikan alternatif (sabtu 5 jan ’08) yg diadakn di aula indosat, sby beberapa minggu lalu.

    setelah saya mencermati beberapa materi yang saya dapat dari seminar tersebut ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan kepada bapak.

    – tolong dijelaskan lagi secara lebih rinci ttg konsep strategi deschooling dong pak, soalnya saya masih sedikit belum nyambung, atau mungkin bapak punya informasi ttg sumber2 referensi ttg deschooling yg bisa saya akses?
    – pd seminar kemarin dulu, dikemukakan bahwa homeschooling itu adalah slah satu bentuk strategi deschooling, nah saya ingin tahu, sebenernya apa saja sih bentuk2 lain dari strategi deschooling selain homeschooling?
    – disebutkan pula bahwa komersialisasi pendidikan di indonesia itu kan dapat dihindari dg mengurangi derajat ‘too-much-schooling’, nah maksudnya ‘too-much-schooling’ tuh yg seperti apa ya?
    – oh ya pak, sebenarnya penerbitan ijazah itu diatur dalam kebijakan pemerintah atau ndak?, apakah penerbitan ijazah oleh lembaga pendidikan itu merupakan kewajibannya lembaga pendidikan tersebut?, kalau iya, berarti apa bisa dikatakan bahwa, wacana ttg ‘tdk-perlunya penerbitan ijazah’ pd suatu lembaga pendidikan, sedikit banyak akan menimbulkan adanya ‘penyempurnaan’ kebijakan pemerintah dong?
    – secara realitas, seberapa besar sih peluang ijazah kesetraan (paket c, misalnya) bisa digunakan untuk daftar masuk PTN? apakah bapak punya info data2 ttg hal itu? saya sangat berharap bisa ,mendapatkan informasi tersebut.

    terimakasih atas jawabannya.
    wassalam.

  9. asslamualaikum
    pak saya gusti dari despro ITS. saya ingin sharing ke bapak tentang program karya sosial yang saya jalankan bersama beberapa teman. mengenai konsepnya saya kirim ke email anda. mohon bantuan saran, kritik, dan masukkan dari anda, sehingga apa yang kami lakukan benar-benar bisa sesuai dengan apa yang kami inginkan. terima kasih pak.
    wassalam

  10. asalamu’alaikum……..
    pak saya ingin menanyakan apa saja kelemahan dari home schooling itu?
    dan apakah mereka dapat bergaul baik dengan dunia luar?

  11. Assalamualaikum wr wb
    Saya jessica Ibu dari Hamzah yang berhomeschooling karena ananda kami dikeluarkan dari sekolah dasar bilingual karena saya sudah tidak mampu membayar sppnya,dan ketika mulai homeschooling ternyata SUBHANALLAH,saya menyadari bahwa homeschooling jauh lebih baik dari sekolah formal yang selangit biayanya.Dan untuk sosialisasi,Hamzah tidak mengalami kesulitan yang selalu dianggap orang anak yang berhomeschooling jadi tekungkung dsb.Malah ananda kami bisa berkomunikasi dengan baik dengan siapapun,lintas usia dan penyampaiannya juga tidak masalah.Monggo dipersani perjalanan HS Hamzah di http://www.hamzah.0fees.net
    tapi mohon maaf masih jauh dari sempurna,tapi setidaknya saya tidak khawatir dgn UU BHP yang mulai mengganas.
    matur nuwun
    Wassalamualaikum wr wb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: